Selasa, 07 Juni 2016

Ramadhan this year


Alhamdulillaah kita dipertemukan oleh Allah dengan Ramadhan tahun ini.

Setiap Ramadhan menyimpan banyak kenangan.

Ramadhan tahun ini menandai satu tahun aku di elkisi. Nggak kerasa. Sekarang elkisi makin rame, ada guru baru dan banyak santri baru. Semakin hari Insya Allah semakin baik lagi. Bi idznillaah.
Ramadhan tahun lalu pertama kali aku di elkisi, mengikuti pondok Ramadhan disana. Sempat ikut 30 days blog challenge di Pelangi Drama, tapi sayang nggak sampai tuntas.
Ramadhan tahun sebelumnya aku masih nginep di alfalah, tidur di ruang guru pas acara mabit sebelahan sama jeng Anjani, jeng Tesa, dan jeng Tri. Makan bakso sama bu Dyah di sebelah pos satpam. Makan cemilan sama jeng Nenden. Nyari seseorang sama jeng Putri. Besoknya pulang bawa bingkisan dari sekolah. You know I miss them  :)
Ramadhan tahun sebelumnya lagi, aku pertama kali kerja di alfalah. Ikut acara di sekolah, mengisi halaqah anak-anak. Sambil menanti sidang skripsi, bolak balik alfalah-unesa,
Ramadhan sebelumnya sebelumnya lagi aku masih mahasiswa jadi pasti banyak acara buka bersama teman kuliah atau teman sekolah.
Ramadhan ketika aku tahun awal kuliah, aku ikut bagi-bagi takjil di depan fast chicken bersama teman-teman Nasiyatul Aisiyah Buduran.
Bahkan ketika aku ospek, mahasiswa baru di unesa, itu terjadi di bulan Ramadhan. Selepas taraweh ke rumah Risa mengerjakan tugas nggak masuk akal dari kakak senior, bareng sama Asri dan Khofi. Berangkat ba'da shubuh sama dek Upik ke Ketintang maupun Lidah.

Alhamdulillaah tahun ini umur kita masih sampai pada Ramadhan. Mari memanfaatkan waktu sebaik-baiknya, pergunakan Ramadhan dengan maksimal. Semoga Allah memberi kita umur sampai Ramadhan berikutnya.

Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?

Rabu, 01 Juni 2016

Ya sudahlah

Yaa sudahlah yaa. Sudah cukup melihat orang lain, yang mungkin terlihat diatas kita. Mungkin terlihat lebih berkilau dibanding kita. Kelak kita akan merasa capek sendiri ketika kita sibuk menilai orang lain lalu sibuk dengan penilaian orang lain terhadap kita.

Yaa sudahlah yaa. Jika standar yang kita tetapkan adalah 'ridha manusia' maka nggak akan pernah selesai, nggak akan pernah damai hidup kita. Selalu ada pergolakan batin karena selalu saja rumput tetangga nampak lebih hijau. Segera kembalikan standar kita pada 'ridha Allah', pada Al Qur'an dan As Sunnah.

Insya Allah hati akan jauh lebih tenang. Dan begitulah janji Allah, hati tenang itu ketika kita sibuk mengingat Allah.

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (Qs. ar-Ra’du: 28).
Sebahagia kita. Entah bahagia itu datang bersama tawa atau tangis. Sebahagia kita.


Kalau kita bersaing masalah dunia, tujuannya dunia, bekerja keras demi dunia, maka yang kita dapatkan ya hanya sekedar DUNIA SAJA yang kata Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam nggak lebih berharga daripada bangkai kambing.
Kalau kita bersaing dalam hal ibadah kepada Allah, tidak ada yang namanya menang atau kalah. Yang ada adalah kita bersama-sama bergandengan tangan menuju JANNAH Allah.

Jadi hidup di dunia ini mari kita menjadi bahagia. Sebahagia kita sesuai standar Allah.

Seperti kutipan dari Bang Tere Liye berikut.
Bahagia itu boleh jadi seperti pakaian dalam. Mau semahal apapun, semurah apapun, senyaman apapun (maaf) celana dalam kita, maka hanya kita yg tahu. Orang lain tidak. Maka mau bahagia atau tidak, senang atau sedih, yakin atau tidak kita ini sedang bahagia atau pura-pura, sejatinya kita jugalah yg tahu.
Nah, jika kita suka pamer ini-itu, boleh jadi, kita sedang sibuk pamer celana dalam kita.
--Tere Liye

Jumat, 27 Mei 2016

The more you learn, the less you know

Dosenku pernah mengatakan bahwa 'bingung' itu adalah tanda yang baik. Kenapa? Karena ketika kita bingung maka artinya kita masih berpikir. Otak kita masih berputar untuk mencari solusi.

Abdullah bin Mubarak membagi penuntut ilmu menjadi tiga tingkatan.

  1. Sombong
  2. Tawadhu'
  3. Tidak tahu apa-apa 
Semakin belajar semakin bodoh. Semakin belajar semakin menyadari betapa kecilnya kita dihadapan Allah. Semakin belajar seharusnya semakin beradab juga berakhlak.

Senin, 23 Mei 2016

Mengecewakan Keadaan


"Kecewa pada keadaan sebenarnya adalah kecewa pada diri sendiri."

Kecewa pada diri sendiri karena tidak bisa berbuat apapun untuk mengubah keadaan dan kenyataan.
They said, "Jangan mengutuki gelapnya keadaan tapi jadilah lilin yang mengusahakan penerangan."
Ya tentu tidak akan ada keadaan ideal di dunia ini, terlebih ideal menurut versi siapa.

Sesungguhnya kita sedang kecewa pada diri sendiri, yang menginginkan kata 'ideal' tapi enggan melakukan perubahan. Ada sesuatu yang tidak sesuai tapi ingin mengubahnya pun sulit, karena sesuai versi kita berbeda dengan sesuai versi orang lain. Kadang hanya bisa menyimpan dalam hati sampai sesak tapi merasa malu untuk sakit hati. Siapa kita yang berani mengaku sakit hati sementara orang lain sudah berpeluh dalam lumpur perjuangan ini?

Ingin mengubah keadaan tapi terkadang merasa apa yang kita pikirkan berbeda dengan yang dipikirkan orang lain. Apa yang kita pikir baik dan perlu diusahakan sedangkan menurut orang lain tidak seperti itu. Atau mungkin kita yang terlampau bodoh dalam menerjemahkan. Siapa kita yang mengaku sok lelah sementara dibandingkan mereka yang berlari ribuan kilometer kita baru berjalan satu mil?

Mungkin sebenarnya bukanlah keadaan yang mengecewakan kita tapi kitalah yang mengecewakan keadaan.

Selasa, 03 Mei 2016

Community

Memang ya menuliskan sesuatu yang pribadi (read: curhat) di blog satunya itu nggak enak.

Work for what? Setidaknya pertanyaan itu yang selalu menghantuiku bahkan semenjak aku masih di apalah. Dulu pernah mendiskusikannya dengan ustadah Tesa. Apakah itu karena uang? karena status? atau karena apa? Entahlah.

Begitu aku keluar, sempat menjadi pengangguran sok sibuk, lantas berstatus sebagai pekerja di sekolah lagi. Aku kembali berpikir work for what?

Aku senang bekerja dalam tim. Aku senang bekerja dengan orang-orang. Sebab dari setiap orang yang kutemui aku mendapatkan cerita baru. Walaupun sebelumnya aku sempat nggak yakin bisa bekerja dengan manusia mengingat aku ini kadang lebih nyaman berbicara di depan benda mati. Bekerja dengan data, benda, dan ide. Tapi aku salah, bekerja dengan tim membuat kita semakin kuat. Kita akan banyak menyerap energi positif lalu menyebarkannya kembali. Dan itu benar-benar menyenangkan ketika kita berlari bersama untuk memperjuangkan sesuatu.

Saat ini aku menyimpulkan bahwa bekerja itu berarti kita memilih berada dalam sebuah komunitas. Komunitas macam apa yang ingin kita berada di dalamnya. Bersama dengan siapa kita menghabiskan waktu, melakukan apa seharian, dan memperjuangkan apa, tergantung dengan komunitas macam apa kita tergabung.

Dulu aku iri dengan teman baikku, karena aku merasa dia punya komunitas yang menyenangkan tapi aku nggak sepaham untuk mengikuti komunitasnya. Dia senang sekali ketika mengadakan event bersama komunitasnya, melihatnya yang selalu bersemangat membuatku kagum juga envy. Dia sering menceritakan tentang komunitasnya, sering menceritakan teman-temannya di komunitas dan dia selalu berkaca-kaca ketika berkata bahwa komunitas tersebut lah yang mengubah hidupnya. Aku iri saat dia membawa kitab-kitabnya, menjelaskan singkat tentang isi kitab tersebut, juga iri saat dia bingung mentranslate isi kitabnya. Aku iri ketika dia me-mention nama ustadz ustadzahnya.
Anak ini ngajinya terstruktur sekali, punya ustadzah/ murabbi yang bisa ditanyai kapan saja, punya jadwal tertentu, punya senpai yang bisa dijadikan teman curhat, anak ini luar biasa dalam menuntut ilmu.

Nah aku? Throwback ya! Dulu ketika jaman kuliah senang ikut-ikutan kajian. Mulai dari kajian HT, kajian IMM, kajian UKKI, kajian Salaf, atau mentoring dengan senior. Yap sampai akhirnya aku merasakan masing-masing dan mengetahui perbedaannya, walau bagaimanapun hati kita akan condong pada salah satunya.

Terimakasih pada mbak Titah yang pernah mengirimiku sms kala itu, dan betapa aku sangat bersyukur mengenal kajian itu darinya. Sesuatu yang paling aku ingat adalah jawaban-jawabannya yang menyejukkan (nggak panas, nggak dingin, nggak menjatuhkan, nggak menerbangkan) saat aku mulai menanyakan sesuatu yang agak ngawur.

Mungkin aku bukan sebaik anak UKKI atau sealim anak JMMI atau sepandai anak pondokan dan karena bagiku iman itu naik dan nyungsep, aku ya gini gini aja, iman naik terseok tapi ketika futur cukup drastis. Makanya itu aku ingin berada dalam sebuah komunitas yang baik, dimana aku bisa menuntut ilmu dengan sistematis, bersama teman-teman yang akan saling mengingatkan, punya ustadzah/ murabbi yang bisa ditanyai apa saja. Akhirnya aku berusaha mencarinya dengan bergabung menjadi pengajar di sebuah pondok pesantren. Sampai saat ini aku masih berharap dengan berada dalam komunitas ini aku bisa menjadi manusia lebih baik, menjadi penuntut ilmu sejati, bisa belajar mulai dasar dari seorang guru secara langsung. Mempelajari adab dan akhlak dari guru. Meskipun aku merasa agak susah, entah mungkin karena sifat sombongku dan sifatku yang mulai sok pinter. Astaghfirullahal 'adziim..

Berbicara tentang teman dekatku dan komunitasnya tadi, aku dan dia meskipun terlihat sangat kompak, tapi sejujurnya kita berkali-kali bertengkar karena masalah komunitas tersebut. Hahaa~ Don't worry komunitasnya baik kok, sama sekali bukan aliran sesat tapi aku tidak bisa menerimanya karena beberapa alasan. Terlepas dari itu semua I love her because of Allah, serius. Punya teman yang selalu mengingatkanku dan senantiasa mendukungku. Nggak cuma mengiyakan apa kataku tapi juga tak segan memarahiku kalau aku sedang error. Maaf belum bisa nengokin dede bayinya :( Sumpah aku kangen sama anak itu.


Teriring do'a terbaik untuk teman-teman yang membuatku bisa menjadi seperti sekarang ini.