Kamis, 24 Desember 2015

Abaikan curhatan saya

Warning: Postingan ini hanyalah curcol belaka oleh seorang yang katanya "guru" yang sedang sendirian di ruang guru. Jika ada kesamaan nama dan tempat, semata mata hanyalah emosi sesaat. 

Tanpa ada maksud apa-apa tapi mungkin aku akan membandingkan dua hal.
Agak kesel gitu rasanya berada  di suatu keadaan yang sangat tidak jelas, status yang tidak jelas, jobdesc yang tidak jelas. Menyebalkan banget disalahkan karna sesuatu yang aku bahkan tidak tahu kalau itu adalah 'peraturan'. I called it - Melanggar peraturan yang tidak ada.

Lho?

Awalnya kukira ya semua orang itu full time worker. Datang jam 06.50 pulang 15.30. Hari Sabtu sampai Kamis, liburnya Jum'at sob. Wali kelas stay di sekolah. Just like usual school gitu lhoh, kayak full day school biasanya. Awalnya kupikir ketika ada di ruang guru ya normal, ada guru guru. Normal lah... ngobrol, makan bareng, nggosip.

Kenyataannya?

You know bahkan istilah full timer dan part timer itu tak populer disini. Beberapa hanya datang ketika ada jam ngajar DOANG, meskipun beliau seorang wali kelas. Helloww! wali kelas itu tugasnya berat sob, seharusnya mereka stay long lasting di sekolah. Masuk ruang guru.. Oh man, hanya ada beberapa gelintir manusia yang disebut guru, itupun hanya beberapa jam saja. Meskipun nggak nginep setidaknya jam kerja normal lah. Kalo seperti itu, kapan bisa dekat sama anak-anak? Muncul cuma pas ngajar? Jangankan dekat, inget nama anak-anak pun enggak kayaknya.
Seperti hari ini, I'm alone at office. 

Aku nggak nyalahin pihak pendidiknya sih, wong yo aturannya nggak terpublish dengan jelas. Dan tak menyalahkan pihak lembaga karna aku tahu pertimbangannya.
Hanya saja lagi, kok kadang instansinya ngasih tugasnya seabrek sih (nggak sih, kalo ini mungkin orang sepertiku saja yang merasakannya).

Seperti halnya aku yang sudah skeptis dengan jalannya ujian semester, nah yang terjadi memang bener kacau. Entah berapa kali evaluasi, aku nggak yakin akan banyak peningkatan. Yes, aku mbandingin sama alfalah yang aku sudah familiar dengan sistemnya. Menjadi sekretaris dan pemberkasan abadi. 

Sudahlah sudahlah, terus terusan membandingan dengan alfalah juga nggak baik. Anda pikir kenapa saya keluar dari alfalah? Kalau nyari status dan materi sudah pasti aku nggak akan keluar dari alfalah. Tapi aku keluar karna masalah karakter. Aku nggak suka menuruti perintah orang lain, nggak suka ada di bawah orang lain, nggak suka sesuatu yang nggak asik, nggak suka yang "On The Track".
Aku ini lebih kepada seorang 'Artist', do love Art. Suka berjalan di jalanku sendiri. Mengerjakan dengan caraku sendiri. Makanya itu aku nggak peduli ketika waktu itu orang orang mengatakan batu loncatan. I depend on myself. Nggak mau bergantung dengan uang bulanan yang dikasih orang lain. Sampai kapan ngikutin orang lain? 
As you see, jalan pikiranku ini aneh. Kalau aku nggak suka ya nggak suka. Bisa cuek banget. Nggak pernah ndengerin opini orang lain. Bagaimanapun perkataan orang ketika tiba-tiba aku resign dari instansi setenar alfalah, yasudahlah. Memang apa hubungannya sama mereka, ketika aku kerja juga aku nggak pernah ngasih apa-apa ke mereka, ketika keluar pun apa ruginya mereka juga. Kok yo kepo banget. 

Tadinya niatku di el adalah pengen punya jadwal ngaji teratur. Belajar ngajar yang baik dan benar. Ingin jadi muslimah yang lebih baik lagi. Mengubah bad habit menjadi a good one. 
Yeah padahal alfalah juga nggak lebih baik dari el, malah lebih baik el daripada al. 

Sekian.

Kamis, 08 Oktober 2015

Challenge #Day 20 ~ Thanks a million for a great year

#Day20
How have you changed in the past three years?

Sampai saat ini aku merasa titik perubahanku menjadi lebih dewasa adalah ketika aku di #apalah. Datang sebagai mahasiswi tingkat akhir yang belum sidang TA, polos banget ketika di interview sama ustadz Kelik, telat ikut UAS gara-gara interview sama ustadz Iwan. Datang sebagai fresh graduate yang celingak celinguk nggak tau harus ngapain. Datang sebagai newbie yang belum punya pengalaman kerja apapun. Datang sebagai ustadzah yang bahkan nggak pernah terbersit kerja di sekolah.
Tapi satu tahun di #apalah aku belajar banyak hal, banyak hal. Banyak hal. Disamping keribetan dan ketidaksesuaian lembaga tersebut tapi disitu aku dapat banyak pelajaran. Terutama karena kenal teman-teman seperti mereka. Wajarlah jika setiap orang punya kelebihan dan kekurangan, justru dari mereka, orang semacam aku ini bisa mengenal berbagai karakter.

Yes I've changed.
Dari orang egois yang hidup di dunianya sendiri menjadi sosok yang lebih baik. Dari penakut menjadi pemberontak. Aku lebih mengenal diriku sendiri, dan makin menyukai menjadi diri sendiri. Makanya aku belum bisa move on dari #apalah karena hanya di tempat itu aku bisa menjadi diri sendiri, hanya di tempat itu aku punya teman-teman seperti us nee, us tes, us sur, us tri, us layl, us lis, us riz dll... :)

Tapi semenjak aku berhenti, aku kehilangan semua itu. It's no longer fun without you.


Challenge #Day 19 ~ What room?

#Day19
A picture of your favorite corner in your room

Berhubung saat ini posisi lagi di pondok dan nggak sempet motret kamar yasudah pake foto lama aja, dan itu bukan foto kamar melainkan foto ruang sembunyi dulu di #apalah.
Ruang sembunyiku sama us Nee, dan geng menggambar. Ruang multimedia, yang kadang dipake rapat, dipake try out, dipake english millieu. Ruang multimedia yang detik ini menjadi perpustakaan.
Ini adalah our favorite room, selain bawah mejaku. Tempat paling nyaman ketika terlalu senang atau ketika sedih membuncah dalam dada. Tempat saat jatuh cinta dan patah hati. Tempat merancang mimpi dan kecewa pada kenyataan. Tempat kita berbicara banyak hal. Tempat sembunyi kita di sebuah area sempit yang disebut sekolah.

Dan aku kangen banget saat masa masa itu. Ketika kita masih idealis, masih polos, masih full of dreams, masih labil. Hahaha~~

Challenge #Day 18 ~ Kamu itu unik

#Day18
What three lessons do you want your children to learn from you


Each person is unique
Aku ingin menanamkan pada anakku kelak bahwa setiap manusia itu unik, setiap manusia itu berbeda, tapi setiap manusia adalah ciptaan yang sempurna. Punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Allah itu Maha Adil, jika Ia memberikan kekurangan di satu sisi maka di sisi lain akan ada kelebihan. Tidak perlu menjadi orang lain, jadilah diri sendiri. Asal sesuai koridor syariat maka it's okay. Aku nggak akan maksa anakku untuk jago matematika jika ia suka bahasa Inggris. Aku ingin mengajarkan untuk tidak minder dengan kekurangannya sebaliknya aku ingin mendorong apapun bakatnya. Jadilah ahlinya pada bidang apapun yang kamu pilih. Syaratnya satu harus bertanggung jawab. Dan tentu saja pernyataan 'apapun' itu tidak boleh menyelesihi aturan Allah.



Rasanya satu saja sudah cukup mewakili segalanya, tapi untuk mewujudkan satu itu harus bersama partner yang bisa diajak kerja sama, partner yang se-visi dan se-misi, partner yang bisa diajak berteman selamanya. And you know what.. itu adalah hal yang paling sulit :)


Senin, 28 September 2015

Tekad

Bismillaah..
Sudah berazzam pengen jadi guru yang baik, guru terbaik, best teacher ever. Yang kehadirannya dinantikan, yang ketidakhadirannya dirindukan.

Tapi kadang hal itu terhalang oleh sesuatu. Jika mau menyalahkan, banyak lah yang bisa disalahkan. Jika mau mengkritik, banyak lah yang bisa dikritik. Mulai dari sistem, orang-orangnya, hingga budaya yang mendarah daging meskipun sebetulnya keliru. Ini yang membuat semangat kadang naik dan turun.

Ketika aku mulai down, yang kuingat adalah ustadzah Tesa. Dialah idolaku di apalah. Selalu senyum meskipun dihadapkan pada kenyataan yang tidak sesuai. Berusaha sekuat tenaga meskipun amanahnya segunung. Salah satu guru ter-kreatif yang pernah ku kenal, selain memang dia multitalent. Dilihat dari etika, dia bisa menjadi teladan anak-anak.
Ya meskipun dia bukan makhluk sempurna, pasti ada kekurangannya.

Mengingat ust Tesa membuatku kembali bersemangat. Andai ust Tesa ada disini untuk ngajarin aku, dan andai dia disini pasti jadi idola anak-anak. Hahaa..

Faktor lain adalah melihat anak-anak yang jauh dari orang tua, mereka mengharapkan sesuatu dari kita. Lantas apa yang bisa kita berikan?

Bismillaah..
Sudah bertekad. Sudah jalan beberapa bulan. Semoga bisa lebih baik dan bisa istiqomah.