Rabu, 01 April 2015

Itu akhlak

Islam itu agama akhlak. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam diutus salah satunya untuk memperbaiki akhlak.
Senyummu di depan saudaramu itu akhlak. Wajah menyenangkan di depan saudaramu itu akhlak. Caramu bertutur, pemilihan kata, gaya bahasa, sorot matamu itu akhlak.
Nabi shallallahu 'alahi wasallam dapat dipercaya oleh orang kafir qurais karna akhlak beliau.

Dan aku tidak pernah membuat korelasi antara jilbab dan akhlak. Orang yang berjilbab belum tentu akhlaknya ahsan. Jilbab adalah perintah Allah. Akhlak mulia juga perintah Allah. Tidak bisa menjudge orang bilamana ia berjilbab tapi akhlaknya kurang baik. Sebab setiap perbuatan ada hisabnya masing-masing.

Berbuat baik dengan orang kafir dalam hal dunia itu akhlak. Dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.

Bukan berarti juga jika seorang jamaah A diperbolehkan berbuat buruk dengan jamaah B, sebab alasan 'beda'. Justru tunjukkan akhlak ahsanmu.

Tidak berarti seseorang yang ngaku nahdliyin tapi berjenggot dan bercelana cingkrang, tidak boleh berbuat baik kepada seseorang yang menyerukan khilafah. Lagipula dia berjenggot, bercelana cingkrang, berakhlak mulia bukan sebab dia anggota jamaah A atau jamaah B. Tapi karena itulah sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.

Itu akhlak.

Sabtu, 28 Maret 2015

Wedi

Lha aku yo wedi e nek pake baju pingin terlihat cantik di depan orang lain. Tapi bukan juga harus terlihat jelek lho ya. Melainkan harus sesuai syariat. Cantik di hadapan Allah.
Karna Allah. Karna Allah. Karna Allah. Hanya karna Allah. Biar bisa bersama Rasul, biar bisa minum air telaga dari tangan beliau.

Jumat, 27 Maret 2015

I stalk myself

Stalking diri sendiri itu perlu. Ketik nama kamu di google lalu lihat apa saja yang muncul. Sosmed apa yang pernah kamu bikin. Lebih dari itu apa saja yang pernah kamu tulis lalu kamu publikasi. Bahkan foto apa saja yang telah kamu upload.
Apakah itu bermanfaat? Ada gunanya gak sama orang lain? Foto kamu menutup aurat apa tidak? Gayanya sok imut kah? Mengundang perhatian lawan jenis?

Sejatinya kita membuat account di sosmed itu kembali pada diri kita. Apa tujuan kita? Harusnya yang pertama adalah untuk mengingatkan diri sendiri. Nasihat, kata-kata mutiara yang dipublikasi, nomor satu ditujukan untuk diri sendiri. Dan niat berbagi agar orang lain turut merasakan kebahagian kita.
Karna Allah. Karna Allah. Karna Allah. Hanya karna Allah.

Ilmu apapun yang kamu peroleh, tunjuk diri sendiri. Sudahkah kau mengamalkannya?

Stalk yourself. Edit atau hapus postingan yang kurang manfaat bahkan banyak mudharatnya. Sebelum nanti dihisab di hari kiamat. Tidak ada yang luput dari Allah.
Katanya cinta Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, katanya rindu beliau, ingin bersama beliau di surga, mau minum air telaga dari tangan beliau shallallahu alaihi wasallam. Makanya ikuti jalan beliau.

Semua hal itu akan dimintai pertanggungjawabannya. Bismillah. Karna Allah. Karna Allah. Karna Allah. Hanya karna Allah. Bismillah.
Murnikan niatmu Hanna. Mau kan saat meninggal dipanggil oleh malaikat dengan nama terbaikmu?
Bismillah.

Rabu, 25 Maret 2015

Manusia standar

Ternyata aku hanya manusia biasa. Standar. Rata-rata.
Nggak gitu cantik. Nggak gitu pinter. Nggak gitu ramah. Nggak gitu pinter masak. Nggak gitu kaya. Nggak gitu rajin. Nggak gitu berbakat lah.
Apalagi yang bisa kubanggakan selain iman. Alhamdulillah aku punya Allah dan cinta Rasulullah. And that's enough.
Aku takut jika hatiku mengeras apalagi mati. Na'udzu billahi min dzalik.
Mari melewati jalan yang sama dengan Rasul shallallahu alaihi wasallam.

Sabtu, 21 Maret 2015

Alhamdulillah dia mbak Titah

Pas kuliah aku suka berteman dengan kakak senior, cewek tentu saja, entahlah rasanya kalau sama orang yang lebih tua aku diajari banyak hal. Selain tentang kuliah, hal lain yang kita bahas adalah tentang Islam.

Sebut saja mbak Lilik, orang berwajah teduh yang mengarahkanku saat bingung daftar ulang. Sampai aku skripsi pun, kami berteman baik. Bahkan ada dua buku mbak Lilik yang kupinjam dan belum ku kembalikan, nah loh sekarang bingung cara ngembalikannya. I wonder how old her baby is, 'cause last time we met she was pregnant.

Lalu ada mbak Fuji, mbak jurusan Biologi angkatan 2007 asal pulau Bawean. Dia adalah PJ ku saat PKKMB. Kami dekat karena insiden surat cinta, itu adalah tugas terakhir PKKMB yang ditujukan untuk kakak senior kala itu, hanya punyaku tidak tertulis untuk siapa. Makanya saat mbak Fuji sms aku balas untuk dia saja. Aku suka sekali sms-nya tiap malam memberi semangat ketika penat mengerjakan tugas PKKMB yang nggak pernah masuk akal itu.

Mbak Ana, kakak senior fisika sekaligus mentor SKI Fisika. Tapi aku lupa aku mentoringnya sama siapa aja, kalo nggak salah sih sama Fitroh, Tutud, Iik, eh berarti urut no reg ya. Yang kusuka dari mbak Ana adalah kerudungnya yang berbunga-bunga :)

Mbak Leni, kakak senior fisika juga. Aku melihatnya sebagai sosok yang tough. Tangguh. Bagaimana tidak dia berhasil kuliah di material bersama dengan mas Rio. Wow. Dia juga orang yang menemaniku pas lagi galau pindah ke material. Ini sih aku yang bikin gara-gara.

Mbak Devi, kakak mentoring bersama Fifi dan Rani di masjid.

Mbak Zu, kakak mentoring juga. Sering ketemu di masjid.

Mbak Ika, dia ini kakak kandungnya mbak Leni dan sama-sama dari fisika juga. Tadinya aku nggak sadar kalau mereka bersaudara.

Mbak Dita, teman sekamar mbak Titah, teman les di Pare, mbak Dita itu lucu.

Mbak Titah. Bajunya lebar, kerudungnya lebar, dan warnanya selalu gelap. Dia teman sekolah dari kakak sepupuku (mbak Lilus) dan teman ngajinya mas Dian. Terlebih dia kakak kelas di fisika. Kalau ketemu mbak Titah itu wajahnya selalu menyenangkan. Senyumnya melegakan. Sikapnya selalu ceria. Apa yang kamu pikirkan ketika bertemu perempuan yang pakaiannya serba gelap? Aku sih biasa saja, toh bukan pertama kali aku bertemu orang bercadar. Pas SD aku ikut ngaji mereka yang bercadar itu.
Mbak Titah bagiku tidak pernah menggurui, tidak pernah sok pintar, tidak juga sok alim atau sok suci. Pun tidak pernah memaksa untuk ikut kajiannya apalagi kelompoknya. Mungkin karena itulah aku malah jadi suka mengikutinya, karena penasaran. Aku sering dipinjami buku atau dikasih buletin. Dan alhamdulillah... aku bersyukur mengenal sosok seperti mbak Titah.
Bukan, bukan aliran sesat. Kepada mbak Titah aku seringkali menanyakan banyak hal. Apapun. Jawabannya, tidak sok pintar, atau tidak menjelekkan orang lain. Menyenangkan sekali mbak Titah itu. Dia bukan manusia tanpa masalah tapi dia selalu menunjukkan wajah ramahnya.

Aku kangen mereka semua. Oh Allah, I love them because of You.