Senin, 23 Mei 2016

Mengecewakan Keadaan


"Kecewa pada keadaan sebenarnya adalah kecewa pada diri sendiri."

Kecewa pada diri sendiri karena tidak bisa berbuat apapun untuk mengubah keadaan dan kenyataan.
They said, "Jangan mengutuki gelapnya keadaan tapi jadilah lilin yang mengusahakan penerangan."
Ya tentu tidak akan ada keadaan ideal di dunia ini, terlebih ideal menurut versi siapa.

Sesungguhnya kita sedang kecewa pada diri sendiri, yang menginginkan kata 'ideal' tapi enggan melakukan perubahan. Ada sesuatu yang tidak sesuai tapi ingin mengubahnya pun sulit, karena sesuai versi kita berbeda dengan sesuai versi orang lain. Kadang hanya bisa menyimpan dalam hati sampai sesak tapi merasa malu untuk sakit hati. Siapa kita yang berani mengaku sakit hati sementara orang lain sudah berpeluh dalam lumpur perjuangan ini?

Ingin mengubah keadaan tapi terkadang merasa apa yang kita pikirkan berbeda dengan yang dipikirkan orang lain. Apa yang kita pikir baik dan perlu diusahakan sedangkan menurut orang lain tidak seperti itu. Atau mungkin kita yang terlampau bodoh dalam menerjemahkan. Siapa kita yang mengaku sok lelah sementara dibandingkan mereka yang berlari ribuan kilometer kita baru berjalan satu mil?

Mungkin sebenarnya bukanlah keadaan yang mengecewakan kita tapi kitalah yang mengecewakan keadaan.

Kamis, 19 Mei 2016

Menulis ogah ogahan ~ Pengawas UN 2016

Jadi ceritanya aku punya dua blog. yeah just for your information aja sih. Satu buat menulis ogah ogahan yaitu di blog ini dan satunya buat menulis seriusan di platform blog sebelah. Hihi~

Enak, disini nulisnya bisa apa aja. Tanpa pikir panjang. Sehari-hari. Nyantai.
Blog satunya aku rancang khusus *ehem* biar lebih bermanfaat buat pembaca, ya yang mungkin lagi nyari informasi yang informatif lah. Sesuatu yang penting. Serius.
Tapi bukan berarti blog ini nggak penting, cuma beda pengemasan saja gitu lah.

Aku akan sedikit cerita tentang pengalaman jaga UN SMP di MTs S*******H kemarin.

Sebenernya aku menjalankannya sambil agak kesel gimana gitu ya. Dalam hati terasa nggerundel. Sebelumnya rapat, bahkan hampir tiap sabtu ada rapat meskipun aku yang kadang kabur. Kenapa kenyataan yang terjadi nggak sesuai sama hasil rapat? Berdasarkan rapat, yang ditunjuk mengawasi di luar itu nggak ada namaku. Tapi kenapa tiba-tiba berubah di hari H minus sekian dan itu pemberitahuannya di grup WA. Bagiku menyebalkan. Lalu apa gunanya rapat selama ini? Dan gitu kenapa nggak japri aja. Kan bisa sms atau telfon memastikan orang yang ditunjuk mengetahui informasi tersebut. Ini mah enggak, di grup WA yang dimana waktu itu WA ku lagi aku uninstall.

Bukan masalah aku mau apa enggak tapi mendadak itu menyebalkan, terlebih tidak sesuai hasil rapat. Well sebetulnya aku oke oke ajah, malah seneng dapat pengalaman baru.

Kesalahan selanjutnya adalah aku senantiasa membandingkan antara Surabaya dan Mojokerto, dimana kedua tempat itu amat sangat berbeda.
Kalau dulu 2014 aku mengawasi UN di Surabaya cuma 3 hari saja, karena ketika mapel yang diajarkan sedang diujikan kita dilarang mengawasi. Itupun jelas ada surat tugas, ada SK, ada ID pengawas, pengarahan. Di Surabaya juga dalam satu sekolah yang kita jaga itu, pengawasnya berasal dari beberapa sekolah berbeda. Suasananya lebih terasa formal, berkas yang diisi seingetku lebih banyak. Lebih meyakinkan.
Di 2016 aku mengawasi di Mojokerto. Empat hari full. Aku baru nyadar kenapa pada waktu IPA aku nggak boleh jaga itu karena ternyata aku dengan leluasa bisa membaca soal sisa, dan dengan mudah bisa langsung meng-sms jawabannya. Itu kalau aku nggak kenal dosa dan kalau anak-anakku bukan siswa yang jujur. Mana pas hari pertama ribet sama ID pengawas yang belum dikasih. Dalam satu sekolah itu isinya ya cuma guru dari sekolahku. Berkas yang diisi juga lebih sedikit.

Terkadang aku berpikir, ini sebenarnya dulu di Surabaya aku yang terlalu rempong atau Mojokerto yang terlalu woles.

Masalahnya dulu pas kerja di Surabaya kita lebih disiplin. Jam kerja jelas. Tugas jelas. Kok rasanya sekarang jadi merasa penurunan kualitas diri. Pasti yang salah aku nih. Perbedaan budaya lingkungan mestinya tidak membuat kita menurunkan standar, apalagi penurunan kualitas diri.

Selasa, 03 Mei 2016

Community

Memang ya menuliskan sesuatu yang pribadi (read: curhat) di blog satunya itu nggak enak.

Work for what? Setidaknya pertanyaan itu yang selalu menghantuiku bahkan semenjak aku masih di apalah. Dulu pernah mendiskusikannya dengan ustadah Tesa. Apakah itu karena uang? karena status? atau karena apa? Entahlah.

Begitu aku keluar, sempat menjadi pengangguran sok sibuk, lantas berstatus sebagai pekerja di sekolah lagi. Aku kembali berpikir work for what?

Aku senang bekerja dalam tim. Aku senang bekerja dengan orang-orang. Sebab dari setiap orang yang kutemui aku mendapatkan cerita baru. Walaupun sebelumnya aku sempat nggak yakin bisa bekerja dengan manusia mengingat aku ini kadang lebih nyaman berbicara di depan benda mati. Bekerja dengan data, benda, dan ide. Tapi aku salah, bekerja dengan tim membuat kita semakin kuat. Kita akan banyak menyerap energi positif lalu menyebarkannya kembali. Dan itu benar-benar menyenangkan ketika kita berlari bersama untuk memperjuangkan sesuatu.

Saat ini aku menyimpulkan bahwa bekerja itu berarti kita memilih berada dalam sebuah komunitas. Komunitas macam apa yang ingin kita berada di dalamnya. Bersama dengan siapa kita menghabiskan waktu, melakukan apa seharian, dan memperjuangkan apa, tergantung dengan komunitas macam apa kita tergabung.

Dulu aku iri dengan teman baikku, karena aku merasa dia punya komunitas yang menyenangkan tapi aku nggak sepaham untuk mengikuti komunitasnya. Dia senang sekali ketika mengadakan event bersama komunitasnya, melihatnya yang selalu bersemangat membuatku kagum juga envy. Dia sering menceritakan tentang komunitasnya, sering menceritakan teman-temannya di komunitas dan dia selalu berkaca-kaca ketika berkata bahwa komunitas tersebut lah yang mengubah hidupnya. Aku iri saat dia membawa kitab-kitabnya, menjelaskan singkat tentang isi kitab tersebut, juga iri saat dia bingung mentranslate isi kitabnya. Aku iri ketika dia me-mention nama ustadz ustadzahnya.
Anak ini ngajinya terstruktur sekali, punya ustadzah/ murabbi yang bisa ditanyai kapan saja, punya jadwal tertentu, punya senpai yang bisa dijadikan teman curhat, anak ini luar biasa dalam menuntut ilmu.

Nah aku? Throwback ya! Dulu ketika jaman kuliah senang ikut-ikutan kajian. Mulai dari kajian HT, kajian IMM, kajian UKKI, kajian Salaf, atau mentoring dengan senior. Yap sampai akhirnya aku merasakan masing-masing dan mengetahui perbedaannya, walau bagaimanapun hati kita akan condong pada salah satunya.

Terimakasih pada mbak Titah yang pernah mengirimiku sms kala itu, dan betapa aku sangat bersyukur mengenal kajian itu darinya. Sesuatu yang paling aku ingat adalah jawaban-jawabannya yang menyejukkan (nggak panas, nggak dingin, nggak menjatuhkan, nggak menerbangkan) saat aku mulai menanyakan sesuatu yang agak ngawur.

Mungkin aku bukan sebaik anak UKKI atau sealim anak JMMI atau sepandai anak pondokan dan karena bagiku iman itu naik dan nyungsep, aku ya gini gini aja, iman naik terseok tapi ketika futur cukup drastis. Makanya itu aku ingin berada dalam sebuah komunitas yang baik, dimana aku bisa menuntut ilmu dengan sistematis, bersama teman-teman yang akan saling mengingatkan, punya ustadzah/ murabbi yang bisa ditanyai apa saja. Akhirnya aku berusaha mencarinya dengan bergabung menjadi pengajar di sebuah pondok pesantren. Sampai saat ini aku masih berharap dengan berada dalam komunitas ini aku bisa menjadi manusia lebih baik, menjadi penuntut ilmu sejati, bisa belajar mulai dasar dari seorang guru secara langsung. Mempelajari adab dan akhlak dari guru. Meskipun aku merasa agak susah, entah mungkin karena sifat sombongku dan sifatku yang mulai sok pinter. Astaghfirullahal 'adziim..

Berbicara tentang teman dekatku dan komunitasnya tadi, aku dan dia meskipun terlihat sangat kompak, tapi sejujurnya kita berkali-kali bertengkar karena masalah komunitas tersebut. Hahaa~ Don't worry komunitasnya baik kok, sama sekali bukan aliran sesat tapi aku tidak bisa menerimanya karena beberapa alasan. Terlepas dari itu semua I love her because of Allah, serius. Punya teman yang selalu mengingatkanku dan senantiasa mendukungku. Nggak cuma mengiyakan apa kataku tapi juga tak segan memarahiku kalau aku sedang error. Maaf belum bisa nengokin dede bayinya :( Sumpah aku kangen sama anak itu.


Teriring do'a terbaik untuk teman-teman yang membuatku bisa menjadi seperti sekarang ini.

Jumat, 22 April 2016

Reading, Studying, Blogging

Hampir setiap malam aku menyengaja quality time dengan diri sendiri. Menyediakan waktu sendirian di depan laptop sambil mendengarkan mp3.

Terutama jika besok ada jam ngajar maka aku akan merencanakan konsep mengajar, karena aku paling benci kalau ngajar tanpa persiapan, jadi aku akan stay mantengin zenius. Maafkan berhubung aku ini guru amatiran maka untuk mengupgrade diri selain banyak membaca juga sering nonton zenius, yeaah guru yang langganan zenius. Kalaupun esoknya nggak ada jam ngajar, tetap saja aku harus belajar, menyiapkan soal-soal atau apalah. 

Jikapun tidak sedang nonton zenius, maka aku lebih suka membaca buku, menghabiskan bacaan lantas setelahnya mereview di blog.

Ngeblog juga cuma bisa malam hari, diatas jam sembilan. Mungkin karena lancar mikirnya, kebiasaan sejak kelas 12 dulu apalagi pas kuliah selalu belajar malam hari saat semua sudah tidur.

Nah itu dia masalahku. Butuh waktu sendirian saat malam hari dan kalau lagi konsen nggak suka diganggu. Bolehlah siangnya keluar rumah untuk bertemu orang-orang dan melihat dunia luar (dalam hal ini kugunakan untuk berada di sekolah) tapi malamnya I need to stay in my room. Di kamar saja, sendirian bersama laptop dan secangkir kopi.

Rabu, 13 April 2016

Baca dari belakang

Salah satu kebiasaanku ketika membaca sesuatu (bisa artikel, bisa novel, tidak berlaku untuk buku pelajaran) dan tulisan itu bagiku membosankan, adalah aku akan baca dari bawah.

Pertama baca awalnya, trus bosen, akhirnya di skip skip, tetep bosen, yaudah scroll ke bawah. Abis itu merasa sayang kalau nggak dibaca, akhirnya baca perlahan per-paragraf dari bawah ke atas. Nyambung nyambungin cerita sendiri.